Lewat tengah malam aku masih menerka-nerka,
perihal perjalanan waktu yang mengantarku kepadamu,
bagaimana suka duka di belakang,
menerjemahkan seperti apa kita sekarang
Ada sesal yang terlahir (lagi),
dari tangan-tangan yang menggenggam hitam,
juga pengampunan yang dilafalkan satu demi satu,
membuka tabir masa lampau yang kusimpan rapat-rapat
Bagaimana mungkin kaki ini terantuk kembali pada lubang yang sama,
sedang di depan sana lagi-lagi bendera abu-abu yang kau kibarkan,
seperti warna yang kau goreskan di tahun-tahun sebelumnya
Mungkin sudah datang masanya,
berbincang kepada diri,
melapangkan dada menampung kecewa,
meski hati kerap bertanya-tanya,
bagaimana membaca kata "cukup" di matamu?
Bahkan jika seisi dunia kuberi,
tak kan (pernah) cukup mengisi ruang kosong dalam hatimu
Begitu juga maafmu,
tak sanggup membalut luka yang (selalu) kau ukir
Ruang Kosong, 23 Februari 2025
Comments
Post a Comment